
Ketika kartun South Park edisi ke-200 yang menjadikan Rasulullah (saw) bahan guyonan dengan mengenakan kostum beruang, ada seorang pemuda yang sangat marah, Yousef al-Khattab. Ia bahkan secara spontan melontarkan pernyataan agar orang-orang di balik kartun itu berhati-hati, karena bisa jadi mereka akan menjadi sasaran kemarahan umat Islam seperti halnya sutradara Theo Van Gogh di Belanda yang tewas ditikam.
Ucapannya kemudian ditulis di berbagai media sebagai �Bentuk ancaman kelompok radikal Islam terhadap para kreator South Park�. Bahkan karena berita ini pula, produser kartun menghapus edisi �konyol-konyolan� itu.
Siapa Yousef al-Khattab? Tak banyak yang tahu. Orang hanya melihatnya sebagai Muslim taat yang �gampang tersulut� jika Nabinya dilecehkan.
Yang sebenarnya, Yousef adalah mualaf bernama asli Joseph Cohen seorang Yahudi fanatik warga Amerika Serikat. Sebelum kembali tinggal di Amerika Serikat, dia adalah anggota kelompok garis keras Yahudi di Tepi Barat.
Di sana, ia aktif memperjuangkan perluasan permukiman Yahudi di negara itu. Dia pindah ke Israel karena dorongan keyakinannya yang kuat pada ajaran Yahudi. Dia sangat yakin, hijrah dirinya itu akan membuat keyakinan agamanya kian tebal.
Di sana, ia aktif memperjuangkan perluasan permukiman Yahudi di negara itu. Dia pindah ke Israel karena dorongan keyakinannya yang kuat pada ajaran Yahudi. Dia sangat yakin, hijrah dirinya itu akan membuat keyakinan agamanya kian tebal.
Pindah dari Amerika, Cohen kemudian menetap di pemukiman Yahudi di Gush Qatif di Gaza. Setelah tiga tahun menetap di rumah barunya, tanpa diduga, Cohen berbincang dengan seorang Syaikh asal Uni Emirat Arab via internet. Perbincangan itu ternyata membuka pintu dialog antara dirinya dengan tokoh Muslim tersebut.
�Saya menghabiskan waktu berjam-jam dengan Syekh, berdiskusi tentang teologi,� tuturnya ketika diwawancarai Israel TV beberapa waktu lalu.
Keduanya lantas asik terlibat dalam dialog teologi meski dijalin secara berjauhan melalui internet. Rupanya, dialog itu secara perlahan menuntun Cohen pada cahaya Islam. Hatinya seperti mulai terbuka untuk menerima hidayah. Ia pun mencoba membaca Alquran, kitab suci umat Islam. Lambat-laun, pandangan Yusuf tentang Yudaisme mulai berubah. Dalam penilaiannya, Yudaisme setali tiga uang dengan rasisme.
Hingga kemudian, dia benar-benar memutuskan untuk mengucap dua kalimat syahadat setelah yakin akan kebenaran Islam yang disampaikan oleh Syaikh itu melalui proses dialog. Bahkan tanpa ragu, dia kemudian mengganti namanya dengan Yousef al-Khattab.
Saat itu juga, Yusuf mengatakan pada istrinya, Luna, jika dia ingin pindah agama, memeluk Islam. Sebagaimana dirinya, Luna juga merupakan seorang Yahudi fanatik.
�Dengar sayang,� kata Yusuf.
�Aku sangat mencintaimu, namun aku harus jujur padamu��
�Aku membaca Alquran, dan sangat setuju dengan apa yang termuat di dalamnya. Dan jika harus mengatakan bahwa aku seorang Yahudi religius, maka aku adalah pembohong,� tegasnya pada sang istri.
Rupanya Luna tidak kaget dengan kata-kata suaminya. Bahkan, ia pun mendukung keputusan Yusuf. Alhamdulillah, langkah Cohen yang telah berganti nama menjadi Yousef itu diikuti oleh istri dan empat orang anaknya. Mereka mengikut keputusannya dan bersama-sama untuk menjadi mualaf.
Keluarga ini pun pindah dari Netivot ke lingkungan Arab di Yerusalem Timur. Anak-anak mereka tak lagi belajar Taurat. Padahal di sekolah, mereka termasuk murid-murid menonjol dalam pelajaran tersebut.
�Kini, anak-anak belajar Alquran,� kata Yusuf.
Namun tidak halnya dengan keluarga besarnya. Keluarganya yang dikenal taat pada ajaran Yahudi tak lagi mau mengakui dirinya. Keluarganya tak suka melihatnya masuk Islam. Apalagi Yousef kemudian aktif berdakwah di kalangan Yahudi.
"Saya sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga saya. Kita tidak boleh memutuskan hubungan kekeluargaan, tapi pihak keluarga saya adalah Yahudi dengan entitas ke-Yahudi-annya. Saya tidak punya pilihan lain, selain memutuskan kontak untuk saat ini. Kata-kata terakhir yang mereka lontarkan pada saya, mereka bilang bahwa saya barbar," ujar Yousef menceritakan hubungan dengan keluarganya suatu ketika.
Yousef tak sekadar menjadi Muslim. Dia memutuskan untuk menjadi pendakwah bagi kalangan Yahudi. Dia mengakui, berdakwah di kalangan Yahudi bukan pekerjaan yang mudah.
Pertama kali yang harus dilakukan untuk mengenalkan Islam adalah, bahwa hanya ada satu manhaj dalam Islam yaitu manhaj yang dibawa oleh Rasululullah SAW yang kemudian diteruskan oleh para sahabat dan penerusnya hingga sekarang.
Pertama kali yang harus dilakukan untuk mengenalkan Islam adalah, bahwa hanya ada satu manhaj dalam Islam yaitu manhaj yang dibawa oleh Rasululullah SAW yang kemudian diteruskan oleh para sahabat dan penerusnya hingga sekarang.
"Cara yang paling baik untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama untuk semua umat manusia adalah dengan memberikan penjelasan berdasarkan ayat-ayat Alquran dan yang membedakan antara umat manusia adalah ketaqwaannya pada Allah semata," tuturnya.
"Islam bukan agama yang rasis. Kita punya bukti-bukti yang sangat kuat, firman Allah dan perkataan Rasulullah SAW. Kita berjuang bukan untuk membenci kaum kafir. Kita berjuang hanya demi Allah semata, untuk melawan mereka yang ingin membunuh kita, yang menjajah Tanah Air kita, yang menyebarkan kemungkaran dan menyebarkan ideologi Barat di negara kita," sambungnya.
Berdasarkan pengalamannya, dia melihat dasar ajaran agama Yahudi sangat berbeda dengan Islam. Perbedaan utamanya adalah dalam masalah tauhid. Agama Yahudi, kata Yousef, percaya pada perantara dan perantara mereka adalah para rabbi. Orang-orang Yahudi berdoa lewat perantaraan rabbi-rabbi.
"Yudaisme adalah kepercayaan yang berbasiskan pada manusia. Berbeda dengan Islam, agama yang berbasis pada Alquran dan Sunnah. Di semua masjid di seluruh dunia, Alquran yang kita dengarkan adalah Alquran yang sama," katanya.
Selain itu, Yousef mengungkapkan, Yahudisme juga berpatokan pada 'tradisi oral', misalnya kitab Talmud yang disusun berdasarkan informasi dari mulut ke mulut yang kemudian dibukukan. Sehingga keabsahan kitab tersebut bisa dipertanyakan.
Menurutnya, kitab Taurat yang diyakini kaum Yahudi sekarang memiliki sebelas versi yang berbeda dan naskah-naskah Taurat itu bukan lagi naskah asli.
"Alhamdulillah, Allah memberikan rahmat pada kita semua dengan agama yang mudah, di mana banyak orang yang bisa menghapal Alquran dari generasi ke generasi," jelasnya seraya mengatakan dialog merupakan cara terbaik dalam berdakwah di kalangan Yahudi.
Belakangan, Ia kembali ke Amerika Serikat. Ia mendirikan organisasi bagi para pemuda Muslim yang sebagian anggotanya adalah mualaf. Namun, organisasinya kadang dicap sebagai kelompok garis keras.
Ia mengakui, berdakwah tentang Islam di kalangan orang-orang Yahudi bukan pekerjaan yang mudah. Menurutnya, yang pertama kali harus dilakukan dalam mengenalkan Islam adalah, bahwa hanya ada satu manhaj dalam Islam yaitu manhaj yang dibawa oleh Rasululullah SAW yang kemudian diteruskan oleh para sahabat-sahabat dan penerusnya hingga sekarang.
�Ini adalah risiko lain berdakwah,� ujarnya.
Selain itu, Yusuf juga sangat mendukung Hamas. Dan ia percaya, bahwa negara Islam harus didirikan di mana Israel dan Palestina kini berada. Yousef tak ingin lagi mengucap kata Israel. Ia bahkan menyebut tanah yang diduduki Israel sebagai wilayah Palestina.
Kini, Yusuf tak ingin lagi dikaitkan dengan masa lalu Yahudi-nya. Ia menegaskan dirinya 100 persen adalah Muslim.
"Berbahagialah Engkau, Tuhan Allah kami," ujarnya memarodikan doa seperti penganut Yahudi, Namun ia mengakhirinya dengan, "Untuk tidak menjadikanku seorang Yahudi."





Tidak ada komentar:
Posting Komentar